Senin, 01 Agustus 2016

PENGERTIAN SAR



Seach And Rescue ( SAR ) adalah Pencarian dan Pemberi Pertolongan yang meliputi usaha dan kegiatan mencari, memberikan pertolongan dan penyelamatan terhadap orang dan material yang hilang atau menghadapi bahaya dalam musibah penerbangan, pelayaran atau musibah lainnya.

HAKEKAT SAR :
Hakekat SAR adalah suatu kegiatan kemanusiaan sesuai dengan falsafah Pancasila yang merupakan kewajiban moral setiap orang atau warga Negara, meliputi segala upaya dan kegiatan pencarian, pemberian pertolongan dan penyelamatan jiwa manusia dan benda berharga dari berbagai musibah, baik musibah pelayaran, penerbngan atau musibah lainnya.

DASAR HUKUM SAR :
1. Keputusan Presiden RI Nomor : 11 Tahun 1972 tentang Pembentukan BASARI
2. Keputusan Presiden RI Nomor : 47 Tahun 1979 tentan Pembentukan BASARNAS.

DASAR HUKUM PEMBENTUKAN SATGAS SAR DAERAH :
1. Surat Keputusan Menhankam Nomor : 13/155/02.10/03/SOPS tanggal 15 Januari 1979 berisi Pelimbahan wewenang kepada masing-masing Pangkolak Ops dalam mendukung SAR diwilayahnya berikut petunjuk yang dikeluarkan oleh Kepala Staf Angkatan dan Kapolri.
2. Surat Keputusan Menetri Dalam Negeri Nomor : 370.05/2837/SJ tanggal 16 Maret 1981 menganai petunjuk Pembentukan Satuan Tugas SAR Daerah.
3. Peraturan Pemerintah Nomor : 12 Tahun 2000 tentang Pencarian dan Pertolongan dan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor : 19 dan Nomor : 30 Tahun 2001 sebagai aturan pelaksanaan peraturan Pemerintah Nomor : 12 Tahun 2000 tentang Pencarian dan Pertolongan.

OPERASI SAR :
Keberasilan suatu operasi SAR, terutama ditentukan oleh tersedianya tenaga, sarana dan prasarana yang ada pada berbagai Instansi Pemerintah, swasta dan berbagai organisasi masyarakat berpotensi SAR yang memiliki kesiapan serta kemampuan untuk dikerahkan pada setiap tempat dan waktu yang diperlukaan.
Operasi SAR adalah rangkaian kegiatan yang terdiri atas pemberitaan, penginderaan dini, tindakan awal, perencanaan, penyusunan, pengerahan, pengendalian dan konsolidasi unsure-unsur SAR dalam rangka pencarian, pemberian pertolongan dan penyelamatan korban musibah ( Distress Incident ).
Koordinasi SAR adalah upaya dan kegiatan bersama untuk memperoleh kesatuan bahasa, pengertian dan tindakan dalam memecahkan masalah serta dalam mencapai keberhasilan tugas dibidang SAR,
Kecepatan, ketepatan, akurasi dan kelengkapan informasi mengenai data musibah berikut sarana komonikasi, baik untuk koordinasi maupun pengendalian merupakan factor penentu, yang semua itu membutuhkan dukungan dari Instansi Pemerintah, Swasta dan berbagai organissi masyarakatberpotensi SAR. Karena itu melalui prinsip koordinasi dan keterpaduan, peran serta yang lebih aktif dari berbagai pihak terkait yang diperlukan, sehingga Operasi SAR dapat dilaksanakan dengan cepat, tepat dan handal.

2
Operasi SAR dihentikan bila korban musibah telah berhasil diselamatkan atau bila telah diyakinkan bahwa harapan untuk menyelamatkan korban sudah tidak ada lagi.

TINGKAT KEDARURATAN MUSIBAH :
            Kedaan suatu musibah dibagi dalam 3 (tiga) tingkatan yakni Tingkat INCERFA ( tingkat meragukan ), Tingkat ALERFA (tingkat mengkawatirkan), dan Tingkat DETRESFA (tingkat memerlukan Bantuan).

TINGKAT INCERFA :
            Bila pesawat Terbang atau Kapal laut terlambat melapor atau tiba ditempat tujuan dalam waktu :
            15  menit       : Untuk Pesawat jenis Jet.
            30  menit       : Untuk Pesawat bukan Jet
            60  menit       : Untuk Pesawat yang tidak membuat rencana penerbangan (Flight Plan).
            Dan untuk Kapal Laut bila terlambat datang atau melapor ditempat tujuan dalam waktua :
            2 sampai 24 jam         : Untuk Kapal Motor mempunyai alat komonikasi.
            2 sampai   4 hari         : Untuk Kapal Layar tanpa alat komonikasi.

TINGKAT ALERFA :
            Merupakan kelanjutan dari tingkat INCERFA atau telah diketahuinya penumpang Pesawat atau Kapal dalam keadaan mengkhawatirkan karena adanya ancaman terhadap keselamatannya.

TINGKAT DETRESFA :
            Merupakan kelanjutan dari tingkat ALERFA atau telah diketahuinya bahwa penumpang pesawat atau kapal dalam keadaan antara lain :
a.
Pesawat yang melakukan pendaratan darurat, mendarat dilaut (ditebing), tidak dapat mempertahankan ketinggian, menabrak gunung, jatuh dan lain-lain.
b.
Kapal laut yang kehilangan baling-baling atau terbakar yang tidak berhasil dipadamkan oleh awaknya, kapal tenggelam dan awak kapal yang harus melakukan peran peninggalan kapal, awak kapal penumpang yang memerlukan pelayanan medis darurat dalam pelayarannya.

TAHAB KEGIATAN OPERASI :
            Untuk keberasilan suatu operasi SAR, maka harus melaui 5 (lima) tahab kegiatan, yakni Tahab Menyadari, Tindak Awal, Perencanaan, Operasi dan Tahab Akhir. Kecepatan pelaksanaan kegiatan awal dimulai sejak adanya berita musibah atau diketahyuinya keadaan darurat.

TAHAB MENYADARI / AWARENESS STAGE :
            Adalah tahab diketahuinya suatu musibah atau keadaandarurat yang mengancam keselamatan jiwa manusia atau harta benda berharga dikarenakan adanya musibah melaui deteksi dini dari pos-pos siaga SAR, atau disampaikannya berita musibah oleh Instsnsi, Organisasi atau masyarakat ke BASARNAS, KKR, SKR atau pihak berwajib dengan cepat, tepat dan akurat.



3.
TAHAB TINDAK AWAL /INITIAL ACTION STAGE :
            Adalah tahab untuk mengevaluasi kejadian atau musibah dengan penggolongan keadaan daruratnya, serta penyiagaan fasilitas SAR yang diperlukan untuk kelancaran operasi SAR, baik pencarian awal dengan komonikasi “ Preeliminary Communication “ ( PRECOM ), pencarian awal secara menyeluruh berdasarkan perkembangan situasi “ Extended Commonication “ ( EXCOM ), sekaligus pemilihan atau penunjukan seorang SMC oleh KKR atau SKR untuk dimintakan pengasahan dari BASARNAS.

TAHAB PERENCANAAN /PLANING STAGE :
            Adalah tahab perencanaan pencarian setelah fasilitas SAR dari sarana dan prasarana operasi disiagakan, memperkirakan DATUM atau posisi duga yang paling mungkin, menhitung luas area pencarian, menentukan pola pencarian yang paling tepat, membuat rencana pencarian berdasarkan kesiapan dan kemampuan SRU yang tersedia.

TAHAB OPERASI / OPERATION STAGE :
            Adalah tahab saat dilakukannya opresasi pencarian atau operai pertolongan dan penyelamatan secara phisik, dimana SMC melakukan brifing operasi pencarian dengan menggunakan check list situai tingkat kedaruratan, situasi tingkat kedaruratan, situasi cuaca ketika musibah terjadi dan situasi saat dilakukan pencarian, situasi luas area pencarian, system pola pencarian, penunjukan pesawat, kapal atau regu darat dan SRU cadangan, dan teknik scanning berupa intruksi, film training atau latihan, laporan yang diketemukan, titik pemberangkatan unsure dan clearance untuk CHOP.

TAHAB AKHIR / MISSION CONCLUSSION STAGE :
            Adalah saat operasi SAR dinyatakan selesai dan seluruh unsure dikembalikan pada kesatuan atau induk organisasi masing-masing. Pada akhir penugasan akan dilakukan pengembalian unsure dan peyiagaan kembali, debriefing serta evaluasi operasi.
            Debriefing akan diberikan kepada korban (survivor) maupun Tim SAR yang selesai bertugas.
Untuk survivor debriefing meliputi :
a. Pertolongan medis yang dilakukan oleh korban sendiri.
b. Informasi kegiatan yang telah dilakukan oleh korban pada saat menunggu pertolongan.
c. Pengalaman korban untuk bertahan hidup.
d. Mencari sebab dan usaha pencegahan pada saat kejadian.

Untuk Tim SAR meliputi :
 Pengecekan kembali semua yang telah diberikan pada saat briefing, sehingga semua hasilnya dapat dianalisa dan dievaluasi untuk membuat laporan akhir tugas.

Dalam pelaksanaan kegiatan debriefing ini diperlukan KIT khusus seperti :
            a. Formulir debriefing
            b. Tape Recorder
            c. Kamera
            d. Alat tulis
Setelah disusun semua laporan, maka organisasi operasi dibubarkan dan dibuat atau dikeluarkan penghentian operasi SAR oleh Ka. BASARNAS.


4.
KOMPONEN PENUNJANG KEGIATAN OPERASI SAR
            Pelaksanaan kegiatan pada tahapan-tahapan tersebut, akan berhasil bila didukung  5 (lima) komponen penunjang yang terdiri :

1. ORGANISASI :
            Merupakan struktur organisasi SAR, meliputi aspek pengerahan unsure koordinasi, Komando dan Pengendalian, Kewenangan, lingkup penugasan dan tanggung jawab untuk penanganan suatu musibah.

2. FASILITAS :
            Adalah komponen berupa peralatan dan perlengkapan, serta fasilitas pendukung lain yang dapat digunakan dalam misi operasi SAR.

3. KOMONIKASI :
            Adalah komponen berupa penyelenggaran komonikasi untuk sarana fungsi deteksi terjadinya musibah, fungsi komando dan pengendalian operasi serta untyuk membina kerjasama dan koordinasi selama melaksanakan operasi SAR.

4. PERAWATAN DARURAT :
            Merupakan komponen penyediaan fasilitas perawatan darurat bersifat sementara, termasuk memberikan dukungan terhadap korban ditempat kejadian musibah sampai ditempat penampungan perawatan yang lebih memadai.

5. DOKUMENTASI :
            Merupakan pendataan laporan dan analisa, serta pendataan kemampuan yang akan menunjang efisiensi pelaksanaan operasi SAR guna perbaikan dan pengembangan pelaksanaan dalam kegiatan misi-misi SAR selanjutnya.

STRUKTUR ORGANISASI OPERASI

SC

SMC











OSC
OSC














SRU
SRU
SRU

SRU
SRU
SRU


SC / SAR COORDINATOR :
            Adalah pejabat yang mempunyai tanggung jawab untuk menjamin dapat berlangsungnya suatu operasi SAR yang efisien, dengan menggunakan seluruh sumber daya (potensi) SAR yang terdapat didaerahnya untuk mencapai hasil yang optimal.



5.

SMC / SAR MISSION COORDINATOR :
            Adalah Pejabat yang ditunjuk untuk melakukan dan melaksanakan koordinasi, pengendalian operasi. SMC dapat mengendalikan setiap unsure yang akan digunakan dalam operasi SAR tersebut.

OSC / ONSCENE COMANDER :
            Adalah Pejabat yang ditunjuk oleh SMC untuk mengkoordinasikan dan mengendalikan SRU di Lapangan atau lokasi kejadian, jika areal operasi sangat luas atau komonikasi antara SRU dan SMC selaku pengendali sulit dilaksanakan.

SRU / SEACH AND RESCUE UNIT :
            Adalah unit-unit SAR  yang mendapat tugas untuk melaksanakan kegiatan atau operasi pencarian, memberi pertolongan dan penyelamatan dilapangan atau lokasi musibah.

TEKNIK EVAKUASI DARAT :
            SRU setelah melakukan pencarian dan memberikan pertolongan medis kepada survivor (korban), harus mampu mengevakuasi korban yang masih hidup agar tetap hidup, dan tidak menambah parah keadaan atau kesehatan korban.
            SRU harus dapat memindahkan korban dari lokasi musibah kelokasi yang aman atau langsung dievakuasi ke Posko pengendali, atau tempat lain yang ditunjuk untuk mendapatkan pertolongan dan perawatan dengan fasilitas medis yang lebih memadai.
Setiap SRU yang melaksanakan evakuasi, harus yakin bahwa korban sudah dapat dievakuasi, telah siap tersedianya peralatan pendukung, tidak memperlihatkan rasa panic kepada korban apabila menghadapi masalah, member keyakinan kepada korban bahwa ia akan segera mendapat pertolongan sehingga korban tetap merasa aman dan nyaman, dan selalu melakukan pengecekan kesehatan korban secara rutin.
Sebelum melakukan kegiatan evakuasi, SRU harus menyiapkan peralatan pendukung, personil dan memilih lintasan yang akan digunakan untuk melakukan evakuasi.
Dan yang harus diperhatikan oleh setiap SRU dalam melaksanakan evakuasi, adalah factor keamanan, kenyamanan harus benar-benar diraskan oleh korban. Dengan demikian korban akan berusaha dan mempunyai keinginan untuk tetap hidup.

PEMBINAAN POTENSI SAR :
            Pembinaan potensi SAR merupakan kegiatan yang bertahap, bertingkat dan berlanjut. Rangkaian inimeliputi kegiatan perencanaan, pengorganisasian, penggiatn, pengendalian dan pengawasan yang berkesinambungan.
            Upaya pembinaan potensi ditujukan untuk mewujudkan tersedianya kemampuan dan kkesiapan unsure SAR dalam kualitas dan waktu yang tepat, guna menanggulangi kejadian atau musibah yang terjadi diseluruh wilayah Negara atau diluar Negara.
            Perencanaan potensi SAR memerlukan dukungan system perencanaan yang dpat menjamin keterpaduan semua upaya pembinaan potensi SAR. Sehingga dapat dicapai tingkat kemampuan yang tinggi secara merata, dan pembinaan potensi tersebut merupakan tanggung jawab bersama seluruh Instansi, baik Pemerintah, Swasta dan Organisasi Masyarakat berpotensi SAR.


6.

            Setiap potensi SAR agar memiliki kualitas mental, phisik dan keterampilan serta pengalaman yangt dipersyaratkan untuk melaksanakan tugas operasi SAR secara berdayguna dan berhasilguna.
            Dan untuk menuju sasaran kemampuan yang cepat, tept dan handalm dalam penyelenggaraan SAR, perlu adanya kesatuan pola piker dan pola tindak melaui pembinaan lunak, antara lain berupa pedoman, petunjuk dan prosedur yang disesuaikan dengan kebutuhan serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sehingga dicapai sasaran guna terwujudnya unsure SAR yang siap pakai dan mampu melaksanakan operasi SAR secara efektif, efisien dan handal.






SEKIAN TERIMA KASIH
“  LINMAS ORA PERLU KONDANG SING PENTING TUMANDANG
BARKUWI MADHANG  “








DAFTAR PUSTAKA :
1. SAR BANTU DARAT (1985)  BASARNAS.
2. BUKU PETUNJUK SAR ( BASARNAS )
3. PENDIDIKAN SMC ANGKATAN X  ( BASARNAS )
4. KARUNA NISEVANAM  ( 1986 ) KSR  PMI
5. SAR MANUAL   ( 1990 )  BASARNAS.

6. SAR DARAT DAN LAUT  ( 1990 ) BASARNAS

TEKNIK BERTAHAN HIDUP DI ALAM TERBUKA



A.
Managemen Perjalanan


Managemen perjalanan sangat penting untuk para penggiat Alam Bebas yang selalu berada tidak jauh dari bahaya, baik itu tersesat, kedinginan, kelaparan sampai bahaya kematian.

Ketika kita akan pergi ke sekolah atau ke kantor, dari rumah kita sudah mempunyai Plan, sebuah menagemen perjalanan kecil telah kita buat untuk perjalanan kita agar sampai dengan aman dan cepat ke sekolah atau ke kantor. Jika kita selalu berpikiran seperti diatas, besar kemungkinan kita akan terlambat sampai ke sekolah atau ke kantor.

Begitu juga dengan perjalanan dialam bebas. Manegemen perjalanan sangat diperlukan terutama jika kita baru pertama kali mengadakan perjalanan ketempat yang akan dikehendaki. Cari info sebanyak-banyaknya tentang tempat yang akan dituju. Semakin banyak informasi yang didapat, maka semakin mudah kita menyusun menagemen perjalanan, dan perjalananpun semakin nyaman dengan berpatokan pada managemen yang telah dibuat.

Secara garis besar, kegiatan terbagi dalam triga bagian yaitu :
1. Pra Kegiatan
2. Pelaksanaan Kegiatan
3. Pasca Kegiatan

1.
Pra kegiatan
Beberapa hal yang perlu direncanakan sebelum dimulai kegiatan :

a.
Perencanaan perjalanan

*                       *
Maksud dean tujuan kegiatan ini adalah awal dari rangkaian dari kegiatan yaitu menentukan maksud perjalanan, tujuan lokasi, dan target yang akan dicapai.

*
Perencanaan waktu dan tempat.

*
Pengumpulan data lokasi kegiatan
Seperti ltak Geografis dan administrative, kondisi wilayah ( Medan, masyarakat dan lingkungan), budaya masyarakat local, akses kelokasi, dan info-info penting lainnya tentang daerah tersbut.

*
Perencanaan pendanaan.

*
Perencanaan kegiatan perjalanan.

*
Perencanaan logistic pelengkapan dan perbekalan.

*
Pembentukan Tim


b.
Persiapan perjalanan
Dilakukan sesuai dengan kebutuhan kegiatan tersebut meliputi Ketua pelaksana, skretaris, bendahara, pendanaan, prlengkapan, perizinan dan transportasi, dokumentasi serta operasional lapangan yang mengurusi masalah teknis selama kegiatan.
·        Perizinan dan administrasi
·        Pendanaan
·        Pembuatan agenda kegiatan
·        Pendalman materi-materi disesuaikan medan yang akan dituju.
Keempat item diatas, harus tertuang berupa laporan awal perjalanan, guna dipresentasikan kepada Dewan Pengawas Perjalanan atau sejinisnya (hal seperti ini biasanya dilakukan oleh kelompok yang telah terorganisir dengan baik).


c.
Persiapan fisik
Fisik sangat menentyukan kegiatan alam bebas, oleh sebab itu perlu adanya latihabn fisik guna mempersiapkan kondisi fisik sebelum kegiatan. Latihan adalah auatu proses yang berlangsung secara sistematis, dilakukan secara berulang-ulang dengan kian bertambah jumlah beban latihannya dengan bentuk latihannya yang spesifik.


d.
Persiapan Perlengkapan
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mempersiapkan perlengjkapan perjalanan yaitu kesesuaiannya dengan lokasi kegiatan, sesedikit mungkin barang dengan kegunaan sebanyak mungkin. Adapun spesifikasi perlengkapan biasanya terdiri dari perlengkapan pribadi dan perlengkapan kelompok. Perlengkapan perjalanan di alam bebas juga dapat dikelompokan sebagai berikut :
1. Perlengkapan dasar yang meliputi : Perlengkapan memasak, makan,
     minum, perlengkapan untuk MCK, perlengkapan pribadi.
2. Perlengkapan khusus yang disesuaikan dengan perjalanan : Perlengkapan
     penelitian (kamera, buku alat tulis), perlengkapan pendakian tebing (
     karmantel, karabiner), dan lainnya.
3. Perlengakapan tambahan, perlengkapan ini dapat dibawa atau tidak missal
     :  Syal, Semir  dll.
Sebaiknya perlengkapan disusun terlebih dahulu pada sebuah checklist, perlengakapan dikelompokan kemudian diteliti kembali apa yang perlu dibawa atau tidak.

Pisahkan antara perlengkapan kelompok dengan individu, serta diskripsikan siapa saja yang membawa perbekalan, apakah semua perlengkapan dan perbekalan kita bawa sejak awal ataukah diperoleh dalam perjalanan.
Dalam persiapan perlengkapan, perlu diperhatikan juga bagaimana cara untuk mengemas (packing) kedalam tas/ransel. Hal ini diperlukan untuk menjaga keseimbangan beban, bagaimana kita menumpukan berat beban pada tubuh sedemikian rupa sehingga kaki dapat bekerja secara efisien. Dalam batas-batas tertentu, rangka yang dimiliki oleh ransel banyak memberikan kenyamanan. Rangka ini membuat posisi tubuh lebih menyenangkan saat menggendong beban.


Namun bagainamapun desain ransel yang dimiliki akan sedikit artinya apabila anda tidak mampu menyusun barang-barang anda dengan baik. Beberapa yang harus diperhatikan :

1.
Tempatkan barang-barang yang lebih berat paling atas dan sedekat mungkin dekat dengan tubuh.

2.
Barang-barng yang relatih lebih ringan (Sleeping bag, pakaian tidur) ditempatkan dibagian bawah.

3.
Letakan barang-barang yang sewaktu-waktu diperlukan pada bagian paling atas dan mudah dijangkau setiap waktu (jas hujan, P3K, Kamera, Senter dll ).

4.
Kelompokan barang-barang dan dimasukan kedalam kantong-kantong  plastic yang tidak tembus air, terutama pakaian tidur/cadangan, pakaian dalam, krtas, barang elektronik.

5.
Sekali lagi buatlah checklist dari semua perlengkapan kalau mungkin dengan beratnya agar dapat mudah menyusunnya.








e.
Peresiapan Perbekalan Makanan
Hal yang perlu diperhatikan dalam perencanaan perbekalan :

1.
Sesuaikan perbekalan dengan lamanya perjalanan,  aktifitas yang akan dilakukan, serta kondisi medan.

2.
Mengandung kalori dan gisi yang cukup, serta tidak asing bagi lidah dan penciuman.

3.
Sebaiknya siap saji, irit air dan bahan bakar. SEtelah perencanaan perbekalan dengan informasi lengkap, perkirakan kondisi medan dan aktifitas yang kan dilakukan, yaitu dengan melakukan hal-hal berikut : Perhitungkan kalori yang dibutuhkan.

4.
Suysun daftar makanan yang memenuhi rencana tersebut diatas, kemudian kelompokan menurut komposisi dominan kemudian hitung masing-msing kalori totalnya pada keadaam siap dimakan. Apabila ada kekurangan, tambahkan dengan suplemen berupa vitamin.

f.
Publikasi kegiatan
Manfaat publikasi kegiatan antara lain :

1.
Menunjang pencarian dana dalam kegiatan.
Sumber dana kegiatan biasanya dari dana Organisasi dan sponsor. Sebuah perusahaan atau Instansi bersedia mengeluarkan dana sponsor apabila kita memiliki ruang publikasi yang menguntungkan untuk mereka.

2.
Sebagai citra Organisasi.
Publikasi kegiatan yang baik akan berimbas pada meningkatnya citra Organisasi yang melakukan kegiatan tersebut.
3.
Sebagai informasi bagi masyarakat.
4.
Untuk Dokumentasi.

2.
Pelaksanaan Kegiatan.

a.
Pembagian tugas dan kerja sama Tim.
Pembagian tugas disesuaikan dengan kebutuhan kegiatan lapangan. Ketua pelaksana beserta panitia sebagai penanggung jawab seluruh kegiatan dan mempersiapkan semua kebutuhan pra kegiatan, sedangka operasional lapangan mengkoordinir Tim Lapangan. Pembagian tugas Tim lapangan di tentukan sesuai dengan kebutuhan.

b.
Managemen perlengkapan dan perbekalan
Perlengkapan dan perbekalan adalah bagian paling penting dalam kegiatan, oleh sebab itu perlu pengaturan dalam penggunaannya. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengaturan perlengkapan dan perbekalan antara lain :
·        Data semua perlengakapan dan perbekalan.
·        Rencanakan penggunakan peralatan perharinya.
·        Bawa alat dalam jumlah sesedikit mungkin dengan manfaat yang sebanyak mungkin.

c.
Sistem Komando, Komonikasi dan Rescue
Untuk kelancaran kegiatan di lapangan maka perlu sitem Komando dan Komonikasi yang bagus sehingga segala ssuatu seperti informasi mendadak, pengiriman berita dan data kecelakaan dapat direspon dengan cepat.

d.
Dokumentasi Kegiatan.
Mendokumentasikan kegiatan dalam bentuk foto, video, jurnal dll sangat diperlukan. Selain sebagai bahan untuk laporan kegiatan, dokumen tersebut juga menjadi bahan untuk publikasi kegiatan tersebut.

3.
Pasca Kegiatan.
Beberapa hal yang penting dilakukan setelah kegiatan perjalanan selesai dilakukan :

a.
Laporan kegiatan.
Laporan kegiatan adalah bentuk hasil kegiatan yang dapat digunakan menjadi acuan dan tolak ukur untuk kegiatan selanjutnya.

b.
Evaluasi kegiatan.
Evaluasi kegiatan bertujuan agar segala kekurangan selama kegiatan bisa diminimalisir untuk kegiatan selanjutnya. Evaluasi ini berdasarkan dari laporan awal dan laporan akhir dari perjalanan yang dilakukan.

B.
Survival
Merupakan suatu tindakan yang paling awal yang dilakukan oleh setiap makhluk yang hidup untuk mempertahankan hidupnya dari berbagai ancaman. Pada intinya Survival adalah perjuangan agar tetap hidup.
Dilihat dari kondisi alam Indonesia maka pengetahuan Survival ini harus disesuaikan, juga dengan iklim tropis yang ada di Negara kita. Di Indonesia daerah yang akan ditemui adalah : Hutan belantara, Rawa, Sungai, Padang Ilalang, Gunung berapi dan lain sebagainya.


Ada beberapa permasalahan yang akan kita hadapi, yaitu masalah/bahaya yang ada di dalam (bahaya obyektif), masalah yang menyangkut iri kita sendiri (bahaya subyektif). Ada beberapa aspek yang akan muncul dalam menghadapi Survival :

1.
Pskologis : panic, takut, cemas, kesepian, bingung, tertekan, dll.

2.
Fisiologis :  Sakit, lapar, haus, luka, lelah, dll.

3.
Lingkungan :  Panas, dingin, kering, hujan, angin, begetasi, fauna, dll.
Ada factor yang dapat mempengaruhi keberhasilan dalam melakukan Survival, selain factor keberuntungan ( nasib baik/pertolongan Tuhan tentunya) yaitu :
·        Semangat untuk mempertahankan hidup.
·        Kesiapan diri.
·        Alat pendukung.
Beberapa kebutuhan yang harus dipenuhi dalam menghdapi survival adalah perlindungan terhadap ancaman, baik itu berupa ancaman cuaca, binatang, makanan/minuman, dan penyekit.

a.
Ancaman cuaca.
Untuk mengatasi keadaan cuaca yang dingin atau panas adalah dengan membuat bivak atau tempat berlindung sebagai sarana perlindungan yang nyaman bagi kita dari ancaman factor-faktor alam yang ekstrim, selain itu agar badan kita tetap nyaman, usahakan selalu memakai pakaian yang kering. Beberapa jenis sarana yang kita gunakan sebagai tempat berlindung dari cuaca adalah Gua dan bivak. Gua ini kadang tersedia dibeberapa tempat dialam terbuka, namun tidak menutup kemungkinan kita membuatnya dengan mengeruk sisi tebing untuk dijadikan gua.
Selain guan ada bivak. Bivak dapat dibuat dengan berbgai macam cara, baik itu memanfaatkan sesuatu dari alam ataupun dari barng-barang yang kita bawa. Pada intinya fungsi utama membuat bivak adalah dapat melindungi diri dari cuaca.
b.
Ancaman makanan / minuman.
Makanan dan Minuman juga sangat penting yang harus didapatkan dalam menghadapi keadaan yang genting dimana kita butuh tenaga/kalori untuk melakukan aktifitas. Ciri-ciri dan karakteristiknya harus kita kenali agar tidak membahayakan. Untuk lebih jelasnya silahkan lihat Zoologi dan Botani praktis.





Api sangat berguna untuk menghangatkan tubuh kita, untuk memasak dan untuk melindungi diri kita dari ancaman binatang-binatang buas, teknik dan cara pembuatan api harus kita kuasai dengn baik. Membuat jebakan untuk mendapatkan makanan juga salah satu cara untuk tetap bertahan.
Tindakan dalam menghadapi kegiatan survival dinyatakan dengan semboyan “ STOP”  yaitu :
S   =  Stop  ( berhenti )
T   =  Thinking ( mulailah berfikir, dengan ketenangan berfikir akan mudah
          Bertindak.
    O   =  Observe  ( amati keadaan disekitar kita, apa yang bisa kita kerjakan)
     P   =  Planning ( buat perencanaan mengenai tindakan yang akan kita
               lakukan  


Sekian terima kasih
“ LINMAS ORA PERLU KONDANG SING PENTING TUMANDANG
BAR KUWI MADHANG “